Hitam-Putih Hanyalah Warna

(sumber: indulgy.com)
Tuhan menciptakan manusia serupa dan segambar dengan diriNya. Tuhan menciptakan kita semua sama. Perlu saya perjelas juga bahwa manusia diciptakan untuk menguasai segala ternak di Bumi ini, bukan menguasai sesama manusia. Namun apa yang membuat kita saling membeda-bedakan satu sama lain?

Diskriminasi VS Toleransi

Diskriminasi adalah membedakan atau membuat perbedaan. Dalam konteks hukum, diskriminasi adalah memperlakukan seseorang dengan tidak adil. Sebaliknya, toleransi adalah berperilaku adil atau menghormati derajat atau martabat seseorang. Jadi, yang manakah diri anda? Pelaku diskriminasi atau pendukung toleransi?

Pada umumnya, faktor penyebab diskriminasi ada tiga.

Pertama, perbedaan latar belakang masyarakat. Hal ini paling sering kita lihat di Indonesia. Contoh kasusnya adalah para wanita Tionghoa tidak bersalah merasa sangat tidak aman pada kerusuhan Jakarta tahun ’98 karena banyak dari mereka meninggal setelah mengalami kekerasan seksual.

Kedua, perbedaan keyakinan. Kejadian diskriminasi rasial ini yang paling sering kita dengar adalah pertengkaran antara orang beragama Kristen dan orang beragama Muslim. Mereka membakar Gereja, melecehkan satu sama lain, dan bahkan saling membunuh.
Terakhir, perbedaan kebiasaan. Mungkin kalian akan tertawa karena hal “konyol” ini bisa membuat kita saling membedakan dan saling menghina. Tetapi hal ini betul-betul terjadi di Indonesia sendiri.

Saya memiliki pengalaman pribadi tentang kasus diskriminasi karena perbedaan kebiasaan ini. Mungkin beberapa dari teman-teman sudah tahu kalau saya memiliki kebiasaan yang saya lakukan tiap minggu yaitu menulis blog. Banyak dari teman-teman saya di sekolah menghina saya karena kebiasaan yang menurut mereka aneh. Padahal sebetulnya hobi adalah hak setiap manusia untuk memilih, tidak boleh ada manusia yang dipaksakan untuk mengikuti suatu kebiasaan, membaca komik misalnya.

Ini adalah sebuah video animasi yang dibuat di Myanmar oleh orang yang mengunjuk rasa tentang adanya diskriminasi dan ingin menjelaskan bahwa kita semua sama dan harus saling melengkapi, mulai dari yang berkulit gelap, bersikap aneh, bahkan cacat sekalipun.



(sumber: www.ohchr.org)
Jadi, saya memiliki empat solusi yang harus kita lakukan bersama. 

1. Manfaatkan Sosial Media.

Mengapa sosial media (atau biasa disingkat menjadi SosMed)?

Menurut Internet World Stats pada tahun 2011, Indonesia merupakan pengguna Internet terbesar keempat se-Asia setelah Jepang.

(sumber: ceritarara.wordpress.com)

Jadi secara logis, banyak warga Indonesia yang mempunyai sosial media, jadi jika kita mempublikasikan “anti-diskriminasi Indonesia” melalu sosial media (seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, Pinterest, blog, dan lain-lain), akan ada banyak pembaca lokal. Walaupun tidak semua dari mereka akan tergerak hatinya, tapi pasti ada satu atau dua orang yang akan meneruskan postingan anti-diskriminasi yang anda buat.

2. Melalui Lingkungan Sekitar.

Anda bisa berbagi ke teman anda di sekolah, kampus, atau kantor. Manfaatkan lah mulut anda dengan baik. Setidaknya berbagi hal yang positif lebih baik dari pada hal-hal yang tidak benar bukan?

Saran saya, jangan mengungkapkannya secara to the point. Jangan langsung berkata “Stop diskriminasi di Indonesia” karena teman anda tidak akan mengingatnya atau jika kalian menggunakan brosur mereka akan langsung membuangnya. Anggap saja mereka tidak tahu arti kata diskriminasi, jadi jangan bicara to the point.

Jika anda menggunakan brosur, anda bisa menggunakan metafora sebagai judul misalnya, “Ayam Hitam dan Ayam Putih”, “Warna hanyalah warna”, dan lain-lain.

Jika melalui mulut ke mulut, bicaralah seolah-olah anda tidak ingin menceramahkan mereka misalnya, mintalah bantuan kepada mereka untuk membantu anda mempromosikan “program” anti-diskriminasi. Kalau mereka adalah orang yang cuek dan tidak gaptek (gagap teknologi), mereka pasti akan mau tapi kalau mereka adalah orang yang kurang suka menggunakan social media pasti mereka akan menolaknya.

Ada pepatah yang mengatakan "Bangunlah dan bangkit lagi sampai anak domba menjadi singa". Jadi jangan mudah menyerah.

3. Gunakan bakatmu.

Setiap dari kita pasti memiliki bakat masing-masing. Daripada bakat itu tersimpan sia-sia lebih baik digunakan untuk hal yang positif.

Misalnya, kalian suka bermusik, buatlah lagu tentang anti-diskriminasi atau toleransi seperti Iwan Fals yang menggunakan bakatnya untuk membongkar Indonesia menjadi lebih baik sekaligus menghibur orang-orang. Walaupun beliau sering dikenai sanksi karena menghina presiden pada masa itu oleh pemerintah namun pada akhrinya beliau berhasil.

Jika anda suka menggambar. Anda bisa menggambar poster-poster tentang diskriminasi dan toleransi. Meskipun tidak semua orang mengerti karya seni anda, tapi jika satu orang mengerti seni, ia akan langsung tersentuh hatinya dan tergerak untuk mengikuti jejak anda.

4. Jadilah Dirimu.

Jangan berlagak pintar, bijak, dan sebagainya. Jadilah dirimu sendiri meskipun awalnya akan banyak hinaan dan cemoohan yang kita akan terima. Sekarang kita harus memprioritaskan kesabaran. Kita tidak akan sukses begitu saja. Jika seluruh bangsa ini sudah melihat, perlahan akan ada peningkatan. Apakah Martin Luther King Jr. sukses begitu saja? Tidak! Ia melewati banyak rintangan selama memperjuangkan orang kulit hitam di bangsanya hingga akhirnya semua orang mendengar suaranya. Jika ingin mengubah bangsa, jangan takut salah! Rasa takut tidak akan mengubah apapun! Jika saya menunggu kesempurnaan, saya  tidak akan pernah menulis satu kata pun. Seperti yang Margaret Atwood (seorang penulis) katakan “If I waited for perfection, I would never write a word” yang artinya jika dia menunggu kesempurnaan, dia tidak akan pernah mulai menulis dan yang pasti, tidak akan pernah menjadi penulis terkenal.

Memang sulit untuk saling mengasihi. Saya mengambil contoh film kartun “Tom and Jerry” dimana Tom adalah seekor kucing dan Jerry adalah seekor tikus. Hampir tiap hari mereka selalu kejar-kejaran dan saling bertengkar. Tapi untuk mencapai sesuatu, jika mereka melakukannya bersama, mereka akan berhasil. Terkadang sang tikus sering membantu kucing tersebut supaya tidak dimarahi dan mereka tetap tinggal bersama. Jika suatu saat salah satu dari mereka pergi, maka ceritanya tamat bukan?

Saya memiliki pesan untuk para guru. Masa anak-anak sampai remaja (SD hingga SMA) merupakan masa terbentuknya karakter anak. Jadi guru dan pihak sekolah lainnya diharuskan untuk membentuk karakter anak dengan baik. Siswa-siswi sekolah pasti akan mencontohi sikap gurunya karena sebagian besar waktu siswa dihabiskan di sekolah. Jika guru tersebut pilih kasih dalam mengajar, maka besar kemungkinan para murid akan melakukan diskriminasi. Selain itu, korban bully juga akan mengalami rasa trauma yang besar sehingga akan takut bergaul, tidak percaya diri, dan sebagainya.

Saya ingin mengutip perkataan seorang pejuang anti-rasisme Amerika Serikat, Martin Luther King Jr. begini katanya “When two friends understand each other totally, the words are soft and strong like an orchid's perfume” yang artinya “Ketika sepasang teman saling memahami benar-benar, kata-katanya akan menjadi lembut dan kuat seperti wangi anggrek”. Jika hanya sepasang teman saja saling mengerti dapat membuat perdamaian yang luar biasa, bagaimana jika seluruh bangsa atau bahkan seluruh isi Bumi ini saling menyayangi tanpa memandang kulit?

Sebelum saya menutup postingan kali ini, ada sebuah pantun singkat dari saya:

Untuk mengubah dunia sepenuhnya, harus ada rasa saling percaya.
Untuk mengubah Indonesia selamanya, harus ada kerja sama.
Apa lagi yang anda tunggu? Anggap saja anda adalah satu-satunya harapan bangsa Indonesia. Apakah anda akan diam saja menonton bangsa kalian yang sangat kacau? Tidak! Jadi, mulailah menyebarluaskan anti-diskriminasi di Indonesia!

Daftar Pustaka:

  • Almira, D. (2013). Diskriminasi.  Diambil dari http://www.slideshare.net/hallotugas/diskriminasi. Diakses pada tanggal 9 Februari 2015.
  • Patterson, L. (1997). Martin Luther King, Jr. Man Of Peace. Washington :Yearling Book.
  • Wiesenthal, S. (2009). What Does Tolerance Mean to You?. Diambil dari http://www.museumoftolerance.com/site/ . Diakses pada tanggal 10 Februari 2015.
  • Reuters, T. (2013). What is Discrimination. Diambil dari http://civilrights.findlaw.com/civil-rights-overview/what-is-discrimination.html . Diakses pada tanggal 10 Februari 2015. 
  • Sutantro, S. (2014). Tweet for Tolerance. Diambil dari https://edutechpost.wordpress.com/2014/06/27/tweets-for-tolerance/ . Diakses pada tanggal 10 Februari 2015. 
  • Sutantro, S. (2015). Amplify Your Writing Quality. Diambil dari https://edutechpost.wordpress.com/2015/02/07/amplify-your-writing-quality/ . Diakses pada tanggal 10 Februari 2015.

Jevon Levin

18 Celotehan

  1. Wih keren banget blognya, bisa menginspirasi banyak org supaya ga ngebully lagi dan ga beda bedain lagi, keren banget.

    ReplyDelete
  2. Keren banget blog nya bisa menginspirasi orang lain dan juga bisa merubah sifat orang lain 👏👏

    ReplyDelete
  3. Keren bgtt bsa menegur sifat orang yang suka membeda"kan

    ReplyDelete
  4. A Great young star blogger is born. Amazed at your blogging consistency.
    Jevon, I have no doubt, you'll be one of the greatest future bloggers. Your daily life blog is very reflective and personal. It amplify you as a person.

    The pictures, quotes, and messages of this post is very inspiring.
    Although I am not the judge of this competition, I think your blogging skills just blew me away.

    Please keep writing and sharing your post, I will be one of your top blogger fans.

    Best,

    Steven

    ReplyDelete
  5. Suarakan apa yang pantas disuarakan!! *jempol*

    ReplyDelete
  6. Wow look forward to see you.. Mau tau secara langsung dengan dirimu. Di kelas mana yah? Kapan Bisa bicara mengenai integritas untuk Indonesia ?

    Alex

    ReplyDelete