If Humans Were Termites

Pernah nggak kalian ngebayangin sebuah dunia dimana seluruh mahkluk hidupnya nggak bisa melihat, hanya bisa mendengar, berbicara, mencium. Mungkin satu-satunya hal yang indah adalah suara, cuma ada bakat bernyanyi, suara yang buruk berarti cacat, diskriminasi akan menjadi sangat jarang, dan mungkin nggak ada yang namanya pornografi.

Pernah nggak kalian ngebayangin sebuah dunia dimana semuanya nggak bisa berbicara, hanya bisa mendengar, melihat, dan mencium. Mungkin semua akan dinilai dari penampilannya, kita gak bisa menyatakan perasaan kita, komunikasi hanya melalui ekspresi, dan indera pendengaran pun kurang berguna.

Pernah nggak kalian ngebayangin sebuah dunia dimana semuanya nggak bisa mendengar, hanya bisa melihat, berbicara, dan mencium. Mungkin semua juga akan dinilai dari penampilannya, semua yang kita ucapkan hanyalah sebuah bibir yang berkomat-kamit, dan berbicara bukanlah sesuatu yang menyenangkan karena gak ada yang bisa mendengar.

Bagaimana jika sebuah dunia tidak mengenal ketiganya? Kita tidak bisa mendengar, berbicara, dan melihat, tetapi hanya bisa mencium. Dunia akan serasa sepi, tapi kita tidak menganggapnya sepi karena memang begitulah dunia. Dunia akan serasa gelap, tapi kita tidak menganggapnya gelap karena memang begitulah dunia. Dunia cuma punya wangi-wangian dan kita hidup dengannya. Itulah kehidupan rayap.

Tapi kenapa rayap tidak pernah mengeluh dengan kekurangan itu? Karena mereka tidak tahu bahkan tidak akan pernah tahu kalau semua itu adalah kekurangan. Mereka menganggap bisa mencium dan memakan banyak kayu adalah kelebihan. Mereka tidak butuh penglihatan untuk melihat keindahan alam dan tidak butuh pendengaran untuk mendengarkan nyanyian alam. Dunia hanyalah antara dirinya dan sebatang kayu.

Tapi, kenapa kita, manusia-manusia gak tau diri, nggak pernah bisa fokus pada satu kelebihan kita dan malah ngeluh soal kekurangan kita. Dulu, gue pernah baca suatu cerita pendek, entah siapa yang buat dan dimana gue ketemunya, gue udah lupa. Begini ceritanya:

Orang 1: "Aku dibenci lingkunganku."
Orang 2: "Aku dibuang orangtuaku."
Orang 3: "Aku dikhianati semua orang."
Orang 4: "Aku memiliki penyakit keras yang dijauhi semua orang."
Orang 5: *diam karena dia adalah seorang tuna wicara*
Kemudian mereka semua berpikir kalau masing-masing dari mereka tidak seburuk keempat orang lainnya.

Anyway, tulisan ini gue mulai tepatnya tanggal 28 Juni 2016. Hampir setahun. Gue bahkan hampir lupa kalo gue pernah nulis ini. Lucunya, gue tersentuh dan terinspirasi lagi sama tulisan gue ini. Manusia selalu mengeluh seakan gak ada hal yang bisa disyukuri. Bahkan seekor rayap yang gak bisa mendengar, berbicara, dan melihat bisa bersyukur. Mereka gak menganggap kekurangan itu tidak sempurna, melainkan sempurna. Kita bisa aja lebih memikirkan kelebihan kita dan menutupi kekurangan kita dengan itu. Gimana mau membangun suatu negara yang berkekurangan kalo belom bisa terima kekurangan diri sendiri?

Segini aja artikelnya, maaf kalo ada salah-salah kata karena gue bukan cewe (selalu benar). Jangan lupa kasih tanggapan kalian atau apapun di kolom komentar!

Jevon Levin

11 Celotehan

  1. Wah men, nempelak. Terima kasih sudah ngajarin gue artinya 'bersyukur' ya bro :)

    ReplyDelete
  2. Beberapa orang sepertinya tidak diberikan kepekaan terhadap sesuatu dengan rata. Banyak yang selalu merasa kurang ketika ada orang yang dengan kekurangan yang lebih dari mereka tapi tetap menerima dan mensyukuri.

    Semoga kita menjadi manusia yang selalu peka dan bersyukur atas apa yang sudah diberi. Aamiin..

    ReplyDelete
  3. Hahah intinya, kita harus bisa memperbanyakin bersyukur sih ya :)

    ReplyDelete
  4. ya begitulah Jev, kadang manusia ada yg gak tau diri dan kadang ada yg menganggap diri sendirinya malah gak bisa apa2. beda2 emang tiap orang.. ehehhe

    ReplyDelete
  5. Nelangsa bacanya pas sampai di orang ke-5. Hanya bisa diam. :')
    Biasanya faktor lingkungan. Bergaul dengan orang-orang dari kalangan atas, akan buat kita merasa kurang ini dan itu. Bergaul dengan orang-orang yg demen ngegosip, bikin kita jadi suka ngegosip dan membicarakan kekurangna orang lain. Tapi, kalo bergaul dengan orang-orang positif, seburuk apapun itu, sekurang apapun itu, kita akan tetap berpikiran positif. Sekali-kali nggak ada salahnya melihat ke bawah. Lihat, betapa banyak orang yang kurang beruntung dari kita tapi masih merasa cukup dan bersyukur atas kekurangan itu. :))
    Btw gue ngomong apaan sih XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya komen lu itu serius gitu. Tapi kok gue ngakak ya :))

      Delete